by MarlisKoto@Sydney2007
Merantau adalah sebahagian dari kehidupan yang telah mendarah daging bagi kami anak2 Minangkabau.
Setelah 7 tahun bermukim di Jakarta, saya melanjutkan perantauan saya ke Kota Sydney Australia
dasar anak dari Minangkabau yang selalu saja ingin berkelana dan selalu saja ingin mencoba hidup yang lain dari pada di kampung halaman sendiri.
Saya mendarat di Kingsfort Smith International Airport – Sydney Australia dibulan February 1977
setelah melalui banyak negeri seperti Singapore, Malaysia dan New Caledonia
dengan modal keberanian dan tekad ingin hidup yang layak bagi standard hidup sederhana taraf International bagi seseorang yang baru berumur 23 tahun yang dibesarkan di kampung di daerah Kampar – Riau dan dilahirkan di Bukittinggi dengan Ibu & Bapak berasal dari Bukittinggi tepatnya Guguak Tabek Sarojo IV koto, Agam – Sumatera Barat
padahal bahasa Inggris pada waktu itu yang cuma pas2an…yang hanya dapat dari hasil latihan saudara sepupu yang sempat kursus bahasa Inggris di jalan Merdeka barat.
Jadi buat mempraktek kan bahasa Inggris nya, saya lah jadi lawan bicara yang empuk menurut dia… ?!
sebab kalau ada kata2 yang salah dia tidak akan begitu malu sebab lawan bicara nya juga tidak begitu mengerti banyak tentang bahasa yang baru ini…ha haa haa ada ada saja !
jadi dari hasil praktek itulah, maka nya saya bisa berbicara didalam bahasa Inggris tanpa membayar uang kursus alias gratis…! Ha ha haa haa…dasar preman pasar…!
Sesampai nya saya di Kota yang selalu di idam2 kan ini, saya menarik nafas panjang sepanjang
Panjangnya sebab mengingat perjalanan saya yang begitu panjang dan berkeliling hampir se-perempat Dunia untuk mencapai Kota ini.
Sebenarnya pada waktu berangkat dari Jakarta, saya tidak mendapatkan Visa untuk berkunjung ke Negeri Kanguru ini, berbagai usaha telah saya coba untuk memohon Visa kunjungan tapi selalu saja ditolak
Dua kali permohonan Visa saya ditolak di Australian Embassy jalan Thamrin Jakarta Pusat
Sekali di Australian Embassy Singapore kalau nggak salah di Napier Rd Singapore
Kali yang terakhir di Australian Embassy Noumea – New Caledonia.
Jadi menurut jadwal perjalanan Ticket pesawat saya yang ada, saya ini harus pulang ke Jakarta dengan transit di Sydney selama 1 jam dan menunggu diruang transit.
Jadi dengan kata lain saya ini akan pulang kembali ke Jakarta tanpa bisa keluar mengunjungi Kota Sydney kota idaman atau kota dimana saya telah lama mimpi2 kan ini.
Pada hari keberangkatan saya pulang ke Jakarta dari Kota Noumea yang jajahan Perancis ini
Tiba2 pikiran saya berobah nekat dan memutuskan untuk tidak jadi berangkat dan mencoba untuk lari ke pedalaman New Caledonia dengan resiko apa saja, dari pada pulang kembali ke Jakarta tanpa hasil apa2 ( sebab saya berprinsip bahwa Dunia ini diciptakan oleh NYA buat kita anak Manusia, sedangkan binatang saja bisa tinggal dimana saja di Dunia ini tanpa Visa )
Keluarga tempat saya nginap selama di New Caledonia cukup heboh dan resah atas perlakuan saya yang kurang menghargai peraturan hukum setempat.
Keluarga Bapak Abdul Somad yang telah sudi dengan Ikhlas menampung saya selama di Noumea, dengan memberikan saya penginapan dan makanan dengan segala ketulusan mereka yang tanpa pamrih, telah saya nodai dengan ke egoisan saya untuk mencoba kehidupan diluar negeri.
Alhasil… mungkin Tuhan masih saja tetap melindungi umat NYA yang sedang kesusahan ini, kami pun diberikan jalan untuk bisa masuk ke Australia tanpa Visa, tapi dengan syarat untuk membeli Ticket Pesawat baru dan akan transit di Sydney selama 1 hari dan akan berangkat dari Sydney keesokan hari nya ke Jakarta dengan status ticket OK….tanpa Visa, itu adalah peraturan Inernational yang sebelumnya tidak saya ketahui.
Ide ini saya dapatkan dari anak perempuan Bapak Abdul Somad yang bernama Catherine Abdul Somad yang mana dia mempunyai teman yang mempunyai Travel Biro di kota Noumea.
Terima kasih yang tak terhingga yang selalu saya ucapkan kepada NYA, atas jasa2 Catherine yang diberikannya kepada saya secara tulus ikhlas, sampai2 Catherine lah yang membayarkan biaya Ticket itu
,Sebab dia merasa kasihan kepada saya, didalam posisi yang terlantar seperti itu, jauh dari sanak saudara di negeri antah berantah dan kehabisan uang.
sebenarnya dihari pertama saya datang ke Noumea, persiapan uang saya telah mulai menipis sampai2 dihari pertama dan kedua saya tidak berani sarapan dan makan siang, mengingat harga makanan yang jauh lebih mahal dibanding harga makanan di Jakarta.
Dan dihari kedua itu juga lah saya berkenalan dengan Catherine, pada waktu itu dia bekerja di KBRI Noumea – Caledonia Baru melalui teman sekantornya yang saya telefon untuk minta pertolongan ke perwakilan kita di Kota tersebut.
Didalam situasi terdesak seperti itu, Allah selalu memberikan jalan keluar nya, mendatang kan seorang Malaikat penolong buat hamba NYA yang butuh pertolongan.
Catherine dilahirkan di Noumea dari seorang Ibu yang berketurunan Jawa yang juga kelahiran Noumea dengan Bapak Betawi asli. Dia hanya lancar berbahasa Perancis dan bahasa Jawa bahasa Indonesia nya hanya sedikit sekali apalagi saudara2 nya yang hanya bisa bebahasa Perancis dan Jawa.
BERSAMBUNG……!


